Category Archives: Finansial dan Perbankan

BI Rate Jangan Turun Dulu

Dipublikasikan di Media Indonesia, 29 September 2015.

A policy maker continues to face incomplete information. When the time for decision comes, he almost always to take a leap of faith. He will have to trust his good sense. Crisis provides a litmus test for separating the good from the bad decision makers. (Boediono, dalam Seminar Ulang Tahun LPS, 22 September 2015)

Pelaku sektor keuangan cemas. Kecemasan ini tampak dari data transaksi valas di pasar spot maupun forward. Sejak 1 September hingga Jumat lalu (25/9), Rupiah di pasar spot terus melemah dari Rp14.075 ke Rp14.693 per dolar Amerika atau turun 4,39 persen. Sedangkan di pasar forward, Rupiah sudah turun Rp760 per dolar Amerika atau terdepresiasi sebesar 5,3 persen. Pasar memperkirakan Rupiah akan mencapai Rp14.930 hingga Rp14.945 dalam satu bulan ke depan, dan menembus Rp15.350 sebelum akhir tahun seperti tampak dalam kontrak forward valas 3 bulan mendatang.

Pelajaran dari Yunani

Dipublikasikan di Kompas, Edisi 10 Juli 2015

“Politicians have become masters in the dark arts of expectation management.” (Economist, 17 Januari 2015)

Ketakutan pasar awal tahun lalu terbukti. Pada saat Alexis Tsipras (40 tahun) dari partai sayap kiri Syriza diperkirakan akan memenangkan pemilu Yunani 25 Januari 2015 lalu, harga obligasi pemerintah Yunani pun anjlok. Pasar sudah membayangkan masa depan ekonomi Yunani bakal tidak jelas. Alasannya: selama masa kampanye, Tsipras menyerukan agenda anti-penghematan fiskal yang populis dan berlawanan dengan nasihat para krediturnya, yaitu Komisi Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB), dan IMF, yang sering disebut “Troika”.

Berbagi Tugas Mengawal Ekonomi

Dipublikasikan di Majalah Tempo, Edisi 9 Juli 2015

Tahun 2015 ini pastilah menjadi tahun yang paling memusingkan kepala bagi para ekonom Indonesia setelah tahun 2008 lalu: pertumbuhan ekonomi melemah, inflasi naik, Rupiah tertekan. Perlu solusi komprehensif dan terukur, yang tidak hanya melibatkan domain ekonomi. Situasi ini menegaskan perlunya leadership dan kompetensi dalam kebijakan ekonomi Indonesia.

Meski Federal Reserve, Bank Sentral Amerika Serikat (AS), belum juga menaikkan target suku bunga acuannya—yang sejak 2008 masih bertengger antara 0 hingga 0,25 persen, namun ini tidak berarti gonjang-ganjing di sektor keuangan berhenti. Yunani, Puerto Rico, dan pasar saham Shanghai satu per satu membawa berita buruk terhadap pelaku pasar—yang bila digabungkan dengan kinerja ekonomi AS yang lumayan pada Juni lalu—bisa membuat dollar menguat.

Bila pemulihan ekonomi AS berlanjut, Federal Reserve diperkirakan akan menaikkan suku bunga satu hingga dua kali dalam tahun ini, pada September dan Desember. Mengantisipasi itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS mulai naik, modal pun keluar dari negara-negara lain dan masuk ke AS. Akibatnya, dollar menguat, dan mata uang lain termasuk Rupiah, melemah.

Quo Vadis Suku Bunga Acuan Bank Indonesia

(Dimuat di harian Kompas, Senin 16 Februari 2015)

Pada tanggal 2 Februari 2015 Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pada bulan Januari 2015 terjadi deflasi sebesar -0,24 persen. Selang beberapa hari kemudian BPS mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV-2014, yaitu sebesar 5,01 persen. Bila dihitung secara tahunan, pertumbuhan ekonomi tahun 2014 hanya sebesar 5,02 persen—paling rendah sejak tahun 2010. Melihat gabungan antara deflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi, sebagian ekonom kemudian mengatakan bahwa sudah saatnya suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI rate diturunkan. Namun rekomendasi ini terlalu dini, atau bahkan bisa jadi keliru sama sekali.

Krisis 2008: Sci-fi atau Fakta?

(Dimuat di harian Kompas, Kamis 24 Juli 2014)

The aftermath of banking crises is associated with profound declines in output and employment.” (Reinhart and Rogoff. 2009. “The Aftermath of Financial Crises.” American Economic Review, vol. 99 No. 2, hal. 466)

Rabu kemarin hakim pengadilan Tindak Pidana Korupsi memutus Budi Mulya bersalah. Yang menjadi salah satu pertimbangan majelis hakim adalah krisis—yang merupakan kondisi yang menjadi dasar Bank Indonesia menggelontorkan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) dan memberikan rekomendasi pemberian bailout kepada Bank Century—tidak terjadi di Indonesia.

Dampak Sistemik

(Dimuat di majalah Tempo, Edisi 17-23 Maret 2014)

Salah satu pertanyaan dasar yang berkelindan dalam kasus Century adalah, apakah penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik dapat dijustifikasi secara nalar, ataukah hanya isapan jempol belaka? Dengan kata lain, publik ragu, apakah mungkin bank sekecil Century dapat menyebabkan dampak sistemik? Penilaian terhadap sistemik-tidaknya Bank Century ini sangat krusial karena menjadi pintu masuk bagi perlu atau tidaknya Bank Century diselamatkan.

Century dan Pleidoi untuk Profesi Ekonom

(Dimuat di Majalah Tempo, Edisi 26 November–2 Desember 2012)

Setelah lama tak terdengar, kasus Century mengemuka kembali. Kini peluru Century dibidik ke arah Boediono. Argumen yang digunakan untuk membidik Boediono—yang saat itu menjabat sebagai Gubernur BI—ada dua, yaitu pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) dan status Bank Century sebagai bank berdampak sistemik. Sejauh ini belum terdengar penegak hukum menyebutkan adanya aliran uang kepada Boediono dari pihak-pihak terkait, atau adanya kesepakatan jahat yang tertangkap melalui rekaman yang melibatkan Boediono—seperti kasus-kasus tindak pidana korupsi lainnya.