Category Archives: Lain-Lain

Refleksi atas Pendidikan Ilmu Ekonomi Kita [1]

Abstrak

Sebuah institusi pendidikan yang baik membutuhkan tiga hal sekaligus, yaitu dosen yang hebat, kurikulum dan sistem pendidikan yang baik, serta mahasiswa yang cerdas. Tulisan ini fokus pada isu yang kedua. Ilmu ekonomi sebagai sebuah body of knowledge sudah berkembang pesat. Namun sayangnya tidak banyak perubahan berarti ada dalam mata kuliah yang ditawarkan di perguruan tinggi, termasuk substansi, pedagogi (delivery), maupun SKS yang disyaratkan. Sejak dari awal kuliah, pendangkalan subjek kajian ilmu ekonomi terjadi. Adopsi buku teks Barat tanpa adanya tafsir model dan adaptasi yang cukup dengan konteks Indonesia dan minimnya dialektika di kampus yang melatih penalaran membuat mahasiswa gagap dalam menganalisis masalah ekonomi nyata. Mahasiswa pun menjadi “half-baked economist”: punya ijazah sarjana ilmu ekonomi namun gagal paham. Di sisi lain, banyak dosen juga tidak sepenuhnya memahami apa (ontologi), bagaimana (epistemologi), dan untuk apa (aksiologi) ilmu ekonomi itu disusun. Yang kemudian muncul adalah science dikonfrontasikan dengan agama dan etika; atau kapling moral (agama) mulai digabungkan kembali dengan kapling ilmu secara metafisik. Atau, dosen tidak dapat menilai, mengapresiasi, dan mempresentasikan secara pas teori, model, dan studi empiris kepada mahasiswa. Lebih buruk lagi, gagalnya birokrasi dalam menumbuhkan pemikir dari dalam dan sistem insentif yang buruk di dalam kampus, memicu terjadinya brain dain, adverse selection, dan moral hazard di perguruan tinggi. Situasi darurat keilmuan dan defisit ekonom berkualitas pun terjadi. Persoalan ini semua memanggil komitmen semua pihak, baik itu Kementerian, universitas, fakultas, jurusan, hingga dosen untuk berbenah secepatnya.

Download PDF version

Melawan Malaise

Dipublikasikan di Kompas, 11 Mei 2015 

Ekonomi Indonesia memasuki periode malaise. Pelaku ekonomi merasa tidak nyaman. Pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun ini (year on year) hanya 4,71 persen turun dari 5,14 persen, pengangguran naik dari 5,70 persen (Februari 2014) menjadi 5,81 persen (Februari 2015), pelaku bisnis dan konsumen merasa pesimis. Bila tidak segera ditanggapi, pelemahan ini bisa jadi berlanjut di kuartal-kuartal selanjutnya.

Memang betul bahwa perlambatan ekonomi Indonesia disebabkan salah satunya oleh perlambatan ekonomi global. Ekonomi Tiongkok melemah dan belum ada negara lain yang bisa menggantikan turunnya permintaan Tiongkok ini. Akibatnya, dunia menghadapi kelebihan penawaran di semua pasar, baik komoditas, barang manufaktur, tenaga kerja, maupun dana.

Turunnya permintaan ini menyebabkan persediaan (inventory) menumpuk, harga-harga menurun. S&P GSCI yang mengukur harga komoditi global misalnya, menurun 34 persen dalam 12 bulan terakhir—kembali ke tingkat tahun 2009. Kombinasi deflasi-resesi di tingkat global ini paling ditakuti, karena Jepang pernah mengalaminya selama 20 tahun (dikenal sebagai the lost two decades) sejak 1991. Bila deflasi-resesi global ini terjadi, maka Indonesia bisa terseret dalam periode malaise yang panjang.

Reformasi Struktural

(Dimuat di majalah Tempo, Edisi 2-8 Desember 2013)

Tanda-tanda memburuknya kesehatan ekonomi Indonesia nampak jelas tahun ini: inflasi meningkat, mendekati angka 8 persen; pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 5,7 persen; defisit neraca transaksi berjalan membengkak, menjadi -4 persen terhadap PDB; defisit fiskal hampir menyentuh 2,5 persen terhadap PDB; dan cadangan devisa yang sempat mencapai 112 miliar dolar di tahun lalu, turun menjadi 95 miliar dolar. Selain faktor internal, isu akan dihentikannya kebijakan dolar murah oleh the Fed membuat Rupiah melemah, hampir ke tingkat Rp12.000 per dolar. Bank Indonesia pun seketika menghadapi tugas serentak: menjinakkan inflasi, menstabilkan Rupiah, dan memastikan cadangan devisa dalam jumlah aman. Untuk itu suku bunga acuan BI pun dinaikkan, yang semula 6 persen pada Juni tahun ini menjadi 7,5 persen. Akibatnya dapat diduga: biaya kredit naik dan pertumbuhan melambat.