Category Archives: Energi

Drama BBM

(Dimuat di Majalah Tempo, Edisi 24-30 November)

Kurang dari 30 hari masa kepemimpinannya yang dimulai pada tanggal 20 Oktober 2014, Jokowi telah menunjukkan nyalinya. Setelah mempromosikan Indonesia sebagai tempat investasi dalam APEC CEO Summit melalui pidato bahasa Inggris tanpa teks—yang oleh sebagian orang dibenturkan dengan filsafat Trisakti, kini ia sendiri yang mengumumkan peningkatan harga BBM bersubsidi pada Senin malam lalu.

Langkah yang diambil Jokowi ini patut dipuji. Selain menunjukkan kepemimpinan dan tanggung jawabnya sebagai kepala pemerintahan, langkah cepat yang diambilnya juga menunjukkan bahwa ia rasional dan efektif. Sekian lama energi kita habis hanya untuk berdiskusi, berwacana, dan berdebat dari mulai uji coba RFID, stikerisasi, pembatasan, atau konversi ke BBG. Tidak ada satu pun yang jelas juntrungannya.

Jokowi paham, dalam dunia kang-auw ekonomi, yang berlaku adalah insentif. Dan insentif yang paling kasat mata bagi konsumen adalah harga—bukan himbauan atau pujian seperti “BBM bersubsidi adalah untuk rakyat” atau “terima kasih Anda telah membeli Pertamax” atau “kendaraan ini tidak menggunakan BBM bersubsidi”.

Nasib Rupiah di Tangan BBM

(Dimuat di harian Kompas, Kamis 13 Juni 2013)

Rupiah gonjang-ganjing. Pada dua pekan lalu Rupiah masih di bawah Rp9.800 per dollar. Hari ini (11/6) Rupiah sudah mencapai Rp9.860 (sumber: BI). Di pasar non-deliverable forward, Rupiah bahkan menyentuh angka psikologis Rp10.000. Sejalan dengan itu IHSG melorot 3,5 persen dalam perdagangan hari ini saja dari 4.777 menjadi 4.609. Secara kumulatif IHSG sudah melorot sebanyak 9,2 persen sejak tanggal 16 Mei ketika Rupiah belum menyentuh angka 9.800 per dollar. Di pasar obligasi tekanan jual juga terjadi. Imbal hasil atau yield obligasi Pemerintah tenor 10 tahun dan 20 tahun meningkat sekitar 35 basis poin dalam sehari dan harga obligasi Pemerintah jatuh. Penurunan ini disebabkan asing menarik dananya keluar dari Indonesia yang dipicu oleh ketidakpastian perihal kebijakan harga BBM—selain dari membaiknya rapor ekonomi Amerika Serikat.

Bermain Api dengan BBM

(Dimuat di harian Kompas, Sabtu 16 Februari 2013)

Meskipun opini publik telah bergulir cukup deras, Pemerintah tampaknya masih enggan menaikkan harga BBM bersubsidi. Keengganan ini boleh jadi karena trauma masa lalu ketika rencana yang sama gagal untuk digolkan di Sidang Paripurna DPR. Namun berbeda dengan tahun lalu dimana Pemerintah mengikatkan dirinya untuk tidak mengubah harga BBM dalam APBN 2012, pada APBN 2013 Pemerintah dapat menaikkan harga BBM kapanpun dan berapapun. Meski begitu Pemerintah tampaknya masih bergeming untuk menaikkan harga BBM.

Pemerintah (dan partai-partai koalisi) barangkali khawatir akan kehilangan votes karena mendekati Pemilu 2014. Pilihan ini memang rasional secara politis dalam jangka pendek. Namun dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama pilihan untuk membiarkan harga BBM seperti sekarang tampaknya sulit dipertahankan. Alasannya sederhana: menunda kenaikan harga BBM sangat mahal dan berisiko bagi perekonomian secara keseluruhan. Ibarat pepatah, Pemerintah saat ini sedang bermain api dengan BBM—yang berpotensi menghanguskan perekonomian.